Minggu, 06 November 2011

Merapatkan Shof Dalam Sholat

Apa dalil wajibnya meluruskan shof ?


Jawaban :

Meluruskan shof adalah wajib hukumnya, dalilnya adalah hadist Nu’man bin Basyir r.a , bahwasanya Rosulullah saw bersabda :
“Luruskan (samakanlah) shaf-shaf kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah  hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan diantara hati-hati kalian.”  (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud).
Di dalam riwayat lain disebutkan :
“Hendaklah Kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian.” (HR. Bukhari).
Perintah dalam dua hadist di atas mempunyai arti wajib, karena dibelakangnya terdapat ancaman bagi yang tidak melaksanakan perintah tersebut.
Ketika imam mengucapkan, “Sawu sufufakum…” saya dengar orang disebelah saya mengucapkan, “Sami’na wa atho’na,” apakah ini sunnah?

Jawaban :

Ketika imam mengucapkan, “Sawu sufufakum…” Tidak ada keharusan seseorang mengucapkan “Sami’na wa atho’na,” kalau ini diucapkan oleh salah seorang jama’ah dan menyakini bahwa hal ini adalah sunnah, maka dia telah berbuat bid’ah, karena tidak ada dalil yang mengharuskan untuk mengucapkan seperti itu. Tetapi yang penting adalah seorang makmum segera mentaati perintah imam tersebut untuk merapatkan dan meluruskan shof.
Saya pernah dengar kalau merapatkan shaf adalah kesempurnaan shalat, terus apa yang akan kita lakukan jika orang yang berada di samping kita “enggan” merapat? Dia selalu bergeser waktu saya merapatkan kaki saya dengan kakinya.

Jawaban :

Jika seseorang dalam sholat jama’ah, hendaknya meluruskan barisan sholat menurut kemampuannya dan mengajak orang yang ada disampingnya untuk meluruskan barisan juga. Jika orang tersebut enggan merapatkan barisan dan selalu bergeser ketika didekati, maka tidak ada kewajiban baginya untuk memaksanya karena dia dalam keadaan sholat. Ketika sholat selesai, hendaknya dia menasehati orang tersebut dan memberitahu akan pentingnya meluruskan dan merapatkan barisan dalam sholat, karena barangkali kengganan orang tersebut berangkat dari ketidaktahuan akan pentingnya merapatkan dan meluruskan barisan.
Sahkah orang yang shafnya sendirian saat shalat berjamaah?


Jawaban :

Orang yang sholat jama’ah dan berdiri di shof belakang sendirian, maka tidak lepas dari dua keadaan :
Pertama : Shof di depannya masih kosong, dan dia sengaja berdiri di belakang sendirian tanpa ada udzur, maka sholatnya sah, tetapi perbuatannya ini makruh.
Kedua : Shof di depannya penuh sesak, dan tidak mungkin dia masuk ke dalam shof tersebut, maka orang seperti ini sholatnya sah dan tidak makruh.
Adapun dalil tentang sahnya orang yang berdiri sendirian di shof belakang adalah hadist Abu Bakrah ra :
“ Bahwasanya dia sampai di masjid, sedang Rasulullah saw sedang ruku’, maka dia ikut ruku’ padahal dia belum sampai kepada shof. Setelah selesai sholat, hal itu dilaporkan kepada Rasulullah saw, kemudian beliau bersabda : “ Mudah-mudahan Allah menambah semangatmu untuk sholat jama’ah, tetapi jangan mengulangi sholat di shof sendirian “ ( HR Bukhari )
Hadist di atas menunjukkan sahnya orang yang berdiri di shof sendirian dengan dalil bahwa Rasulullah saw tidak menyuruhnya untuk mengulangi sholat.
Adapun hadist  yang berarti :
“Menghadaplah kiblat ketika kamu shalat, maka tidak ada shalat bagi seorang yang sendirian di belakang shaf.” (Hadist Shohih Riwayat  Ibnu Khuzaimah).
Maksud dari kalimat : “  tidak ada sholat “ dari hadist di atas adalah tidak sempurna sholat yang sendirian di belakang shof, artinya hukum makruh jika tidak ada udzur.
Begitu juga hadist yang berarti :
“Sesungguhnya Rasulullah saw melihat seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf, maka Rasul menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya.” (Hadist Shohih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Hibban ).
Maksud perintah untuk mengulangi sholat pada hadist di atas adalah dianjurkan untuk mengulangi sholat dan tidak wajib, ini jika dia berdiri sendirian di belakang shof tanpa ada udzur.  Jika ada udzur, maka tidak dianjurkan untuk mengulanginya.
Bagaimana solusinya jika kita masuk masjid sedang shof sudah penuh ?


Jawaban :

Jika anda masuk masjid sedang shof sudah penuh, maka berusahalah untuk mencari shof yang agak renggang untuk kemudian berusaha masuk dalam shof, walaupun dengan menggeser sebagian jama’ah yang sedang sholat. Jika tidak bisa karena benar-benar padat, maka berusahalah untuk menembus shof untuk bisa berdiri dan sholat di samping imam. Jika benar-benar tidak bisa juga karena jama’ah sangat banyak, maka silahkan untuk berdiri sendiri di shof paling belakang, dan insya Allah sholat anda sah, dalilnya adalah firman Allah swt :
“ Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu “ ( Qs At Taghabun : 16 )
Apa hukumnya seseorang yang menarik salah satu jama’ah yang ada di shof depan agar mundur dan berdiri di shof belakang bersamanya ?


Jawaban :

Ada sebagian ulama yang membolehkan perbuatan tersebut, tetapi kalau kita teliti ternyata hadist yang menerangkan hal itu adalah hadist lemah. Hadist tersebut berarti :
Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu tidak mendapatkan shaf karena sudah sempurna (penuh), maka hendaklah ia menarik kepadanya seorang laki-laki supaya berdiri di sampingnya.” (Hadist Lemah Riwayat Thabrani).
Begitu juga hadist yang berarti :
Dari Wabidhah bin Ma’bad ra, “Bahwasanya ada seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf, maka Nabi saw berkata kepadanya, “Apakah kamu sudah masuk ke dalam shaf atau engkau telah menarik seorang laki-laki untuk shalat bersamamu? Maka ulangilah shalat.” (HR. Abu Ya’la dan di dalam sanadnya ada kelemahan )
Selain dua hadist di atas derajatnya lemah, perbuatan menarik salah satu jama’ah untuk berdiri di shof belakang bisa mengganggu konsentrasi orang yang sedang sholat. Bahkan hal ini bisa membawa fitnah jika yang ditarik tidak paham dan merasa diganggu sholatnya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang membatalkan sholatnya karena berkeyakinan bahwa pindah tempat dan berjalan kebelakang termasuk sesuatu yang membatalkan sholat.
Dengan demikian, jika berdiri sendiri di shof belakang, dianjurkan untuk tidak menarik salah satu jama’ah kebelakang, tapi cukup dia berdiri sendiri jika memang tidak ada tempat lagi, dengan harapan ada jama’ah lain yang menyusul dan bergabung dengannya. Jika ternyata sampai akhir sholat tidak ada jama’ah lain yang bergabung, maka insya Allah sholatnya tetap sah, sebagaimana yang telah diterangkan di atas.
Apakah diperbolehkan shalat dengan shaf sejajar antara laki-laki dan perempuan meskipun dibatasi dengan hijab? Perlu diketahui di daerah kami banyak masjid yang membagi dua bagian masjid (untuk putra dan putri) kanan dan kiri.

Jawaban :

Sebaiknya shof lelaki di depan, dan shof perempuan di belakang, sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas’ud bahwasanya ia berkata :
“ Akhirkan mereka ( di dalam shof ) sebagaimana Allah swt mengakhirkan mereka” ( Riwayat Ibnu Huzaimah, Thobari dan Abdur Rozak )
Tapi, jika shof laki-laki sejajar dengan perempuan dengan menggunakan pemisah, maka hal itu makruh, tetapi sholatnya tetap syah

Jumat, 04 November 2011

khumairah


Kakaaak, Kucing kita ngelahirin tuh. Dalam sekejap mereka semua berkumpul untuk melihat “keluarga baru” yang akan hadir, satu, dua… Empat anak mungil yang keluar dan sayang yang bungsu harus mati. Hiks… Kak kita kubur yaa, Iya rah tapi ga bisa sekarang, tunggu si Aannya pindah dulu. Adiknya protes Ahh kakak nama ibunya bukan Aan tapi Iin, kan Aan udah Mati. Kakaknya hanya tersenyum
Ya sudah kita kubur yang sudah mati ya”, sanggah Abi mereka.
Tapi Iin kasihan bi, tuh berdarah! Kan sakit bi klo b’darah”
Makanya kalian jangan ngelawan sama umi kalian, umi kalian juga berdarah waktu melahirkan kalian” jawab Abi
Ihh siapa yang ngelawan? Tuh kak Ali yang sering ngelawan”,, “eh eh eh siapa yang ngelawan? Adek tuh ngrengek terus sama umi”.
Ali, Khumairah cepet bantu umi dulu nih, siapin makanan”
Iya mi” jawab Irah, “Oke deh Say” Jawab Ali
eh eh eh Ali pake kata Abi, foto copy aja”, “Biarin hak cipta milik Allah ini hehehehe”
Sampai saatnya makan malam, mereka berkumpul semua di meja makan setelah Abi menguburkan sibungsu, Ali dan Irah pun sudah selesai menyiapkan makanan.
Bi, kak Ali masa semalem hapenya berisik, bunyi mulu. Padahal pulsanya kan ga ada”
Dari siapa li?” tanya Uminya, “Temen” Jawabnya singkat
Boong mi masa dia bilang assalamu’alaikum Nisa” belum diselesaikan kalimat Irah, Ali menyanggah “Fitnah mi, fitnahkan lebih cape dari pada fitnes”, “Ayo Ali ngaku!” bilang abinya. “Emang temen bi, iya cewek yang nelpon sih, biasa pengagum rahasia hehehehehe”, “huuuu…. paling juga kak Ali ngutang”, semua tertawa.
Eh Ali kamu jangan niru abimu yaa, abimu playboy cap lidah kadal dulunya”, “Ah Umi ngomong tanpa bukti itukan fitnah” Sanggah Abi. “Umi masih hapal lho temen umi yang dibuat kesem-sem sama abi, Mira, Erna, Pinkkan, Ade dan masih banyak deh itu baru yang umi tau”. Abi nyeletuk “ iya tapi abi ga begitu tertarik sama mereka, abi lebih tertarik sama wanita yang waktu itu pasti juga suka sama abi si siapa yah?? hmmmm oh, Zakiyah”. Ali dan Irah tertawa terbahak-bahak sedangkan Umi mukanya merah padam.
Hati-hati, li 2 tahun lagi kamu lulus sarjana dan berarti abi dan umi lebih was-was untuk ngontrol kamu, dan cerpenmu harus selesai buat dikirim besok.” tegur umi, “Siap boz”! Makan malam selesai mereka kembali kekamar, tetapi khumairah seperti biasa, mengganggu kakaknya, sambil mengendap-endap masuk ke kamar kakaknya.
Wa’alaikumussalam Nisa, bagaimana laptopnya, udah ilang virusnya? Kenapa lagi?”
A.. enggak, aku cuma disuruh sama abi buat bilang terima kasih, berkat kamu laptop aku jadi bener lagi, eh udah selesai nulis cerpennya?”
Bah, sikit lagi nih selesai”
Eh, kamu orang batak ya?”
nteu teh, aing mah urang Indonesia”,
Ihhh… Ali mah, aku nanya serius juga”
Lho, Kemaren Adi ngajak serius, gua bilang gua bukan gay, sekarang lu, aduh gua bilang apa yah?”
Ihhh..”
Ah ih ah ih… kenapa sih cewek kalo nelpon ngomongnya genit gitu? Jadi pengen kan!”
eh pengen apa?”
Pengen nutup telpon, oke deh tararengkiu silaturahimnya, cerpen gua belum selesai nih, Assalamu’alikum”, telepon ditutup “ huh, kalo lama-lama syetan bisa masuk nih”
Hayyo, ketahuan a..” langsung ditutup mulut adiknya “ststststst, jangan ngadu ke Abi, inget kan terakhir cewek yang dateng ke sini, diceramahin sama abi, langsung mau ngaji sama umi”. “Bagus dong kak!” jawab adiknya, “tapi keliatannya ngajinya bukan karena Allah, tau ga?”, “Enggak!” jawab Irah.”Dasar ngapain ganggu kakak mulu sih?, mau nanya apa?”
Tapi jujur hayyo siapa cewek yang kakak cinta?”, “pengen tau?, namanya Zakiyah sama Khumairah!”, Adiknya langsung merengut “huh, selain itu”.
Umiiiii, abiiiiii Irah ga belajar nih”
Lalu dibawa adiknya kekamar yang kecil dan penuh gambar boneka. “udah jangan ganggu kakakmu dulu, besok kita kan mau jalan-jalan, tidur ya?”, “Tapi kasih tau dulu siapa cewek yang kakak suka?”.
Iya, namanya Iin, udah tidur sana”, “Iin tapi kan” kakaknya langsung keluar kamar “itu kucing kita”.
Shubuh adiknya sudah kekamar kakaknya lagi, dicipratnya si Ali dengan air, tetapi tidak bangun juga, “kak bangun belom sholat yaa?”. “hmmm..cium dulu” sambil menunjuk pipinya. langsung ditarik pipi kakaknya, “Adow”,
Ayo bangun sekarang kitakan kepuncak, cepet ah”
Mereka bersiap-siap untuk berangkat dan tiba-tiba terdengar suara dari luar “Assalamu’alikum, Ali”, umi membuka pintu dan melihat eh Adi, ada apa nih?lho dayang-dayangnya banyak banget. “Ih tante ogah banget kita jadi dayang-dayangnya Adi” sanggah seorang wanita. “Tante kita boleh ga ikut jalan-jalan sama tante, kata Adi tante sekeluarga mau pergi ke puncak”
Iya boleh aja, kalian temannya Ali?” para wanita yang berjumlah 5 orang itu kompak menjawab “Iya tante”.
Huh dasar, cewek gatel”celetuk Adi.
Oh iya tante ini Ina, Ayu, Emi, Sissi, dan Lulu” sambil mereka salim bergantian, padahal dengan orang tua sendiripun tidak pernah saliman.
Eh, kak Adi trus yang namanya Nisa mana?”
Hah, oh kak Nisa ga bisa ikut, dia ada acara, kok tau kak Nisa?”
Iya semalem kak Nisa teleponan ama kak Ali”. Serentak semua wanita yang dibawa Adi cemberut sambil ada yang nyeletuk “pantes semalem gua telepon ga bisa”
Lho, cuy lo nyulik anak orang banyak banget! Satu anak lu minta tebusan berapa?” Ali sambil keluar dengan abi dan siap-siap buat berangkat. “Hai Ali” para wanita kompak menjawab, “Eh ada apa kalian dateng? Baru pulang clubbing nih? Emang Adi bisa ke clubbing? Paling bantar juga nyanyi di pos ronda”
Eh kita mau ikut lo liburan juga”
Nahlo, mi inikan acara keluarga? Masa bawa nih makhluk pada?”
Hus kamu tuh, boleh kalian ikut kok, tapi kita naik bis”
Ga pa pa kok tante, tapi kita boleh ikut ya?”
Boleh kok, apalagi banyak yang cantik-cantik gini pasti seru liburannya” tiba-tiba abi menjawab dari dalam, mereka tertawa tetapi umi mukanya merah padam, kesal.
Mereka berangkat ke terminal KP.Rambutan, lalu menuju puncak. Setibanya dipuncak ternyata salah seorang teman Ali sudah menyiapkan villa untuk bersantai, Ali dan adiknya bermain jalan-jalan keluar, sedangkan abi sibuk sedang merayu umi yang ngambek, dan mendiamkan abi dari rumah sampai puncak.
Ali yang kelimpungan, selalu dikerubuti fansnya, Adi yang asik bercanda dengan Khumairah sambil merayunya “Dedek irah, klo nanti udah gede mau ga nikah sama abang Adi?”, “Ogah bang Adi ga kaya kak Ali, Irah maunya kaya kak Ali”. “Kaya Ali, itusih gampang dek, cuma ngetik artikel, bersihin masjid, trus…” .
Heh lu kerjaannya ngerayu adek gua aja, mending lu rayu tuh cewek-cewek yang tadi lu bawa”,
Ih gua heran ama lu, dibilang gay enggak, tapi ga mau deket ma cewek, mereka semua naksir lu tuh tinggal pilih doang”, celetuk Adi
Ali, sini! Abi sama umi mau ngomong” langsung Ali datang dan melihat tampang kedua orang tuanya yang serius, “Iya, gimana bi? Umi dah ga ngambek lagi hehehe”.
Kami ingin bicara serius denganmu. Ali, kamu memang menurunkan kehebatan abi dalam menaklukkan wanita”
Abi!!”umi langsung memotong dan marah.
Hehehe, afwan jiddan sayang, gini li biasanya seorang anak bila merasakan dirinya untuk menyempurnakan setengah agamanya, mereka akan mengajukan proposal nikah dengan orang tuannya, sedangkan kamu, kami rasa kamu sudah matang untuk menikah, tetapi kami belum menerima apapun dari kamu?”
Tapi bi, Khumairah masih 7 tahun, aku siap menikah ketika aku bisa menjamin adikku lulus sekolah, bukan berarti Ali meragukan kalo abi sama umi bisa nyekolahin Irah sampai lulus.”
Kami mengerti, tapi kami ga mau kamu selalu resah didekati dengan para wanita, kami takut badan kamu tuh makin kurus aja karena keseringan puasa”
Tiba-tiba Adi datang dengan tergesa-gesa dan berkata “Irah hilang, Irah hilang” mereka semua panik dan mulai mencari Irah, tiba-tiba disaat kepanikan itu hape Ali berbunyi dan dilihatnya, “Aduh Nisa lagi, lagi kalut gini ada apa lagi” ditekan tombol jawab di hapenya “Assalamu’alaikum, afwan Nisa lu nelpon waktunya ga tepat, nanti aja yah”
Wa’alaikumussalam warahmatullah, afwan Ali. Adikmu sekarang sedang menuju rumah sakit denganku, dia tadi jatuh ke jurang dan kebetulan Abiku melihatnya”
Innalillahi….. mereka semua menuju rumah sakit yang dituju.
DI RUMAH SAKIT
Syukron om, sudah menyelamatkan adik saya”
Ah, sudah kewajiban kita saling menolong”
Ali masih heran, mengapa Irah bisa ditolong oleh keluarga Nisa? Mungkin takdir Allah.
Dokter berkata kepada umi, abi dan Ali, “Luka benturan yang terjadi cukup parah, dan penyakit leukimia anak ibu sudah stadium akhir, jadi hanya Allah yang bisa menolongnya”
Tidak, kenapa adikku yang kecil yang harus terkena penyakit leukimia? Dia adikku satu-satunya hanya dia yang membuatku semangat, ya Allah jangan kau ambil adikku, apa yang aku lakukan tanpa dia?. Mereka kembali ke ruangan tempat dirawatnya si pipi merah itu, sambil menahan tangis, hanya Ali yang tidak masuk, Ali pergi ke masjid dan menangis disana.
Ali, adekmu li?” Ali langsung berlari dan melihat adiknya, “Irah ayo cepet sadar, nanti yang ganggu kakak dikamar siapa? Yang ngerawat Iin siapa? Yang bangunin kakak kalo ketiduran siapa? Irah bangun dong! Semua hanya bisa menangis, tiba-tiba Irah berkata pelan “Kak Ali”, semua menangis ketika Adi memanggil dokter, dan dokter berkata “semoga dia tenang di sisi Allah”
Umu dan abi menangis, Adi, Nisa dan teman-temannya menangis, hanya Ali yang diam, hanya diam.
Tiga tahun setelah meninggalnya khumairah, muka Ali begitu tegang tubuhnya berkeringat, tangannya menggenggam erat tangan seorang wanita dirumah sakit, dia adalah Nisa, berjam-jam Ali menemani Nisa di dalam ruangan dengan berkeringat, sedangkan Nisa hanya bisa menangis dan berteriak dengan mengeluarkan darah.
.
Ya Allah, tiga tahun lalu aku kehilangan wanita yang sangat kusayangi, apakah engkau juga akan mengambil wanita yang menjadi pendampingku sekarang?”
Tiba-tiba dokter berkata “selamat anda sudah menjadi bapak sekarang, anak bapak perempuan yang manis” Satu-satunya laki-laki dalam ruangan itu langsung terpaku menggendong sorang wanita mungil berpipi merah, dan berkata “Engkau mirip sekali dengan Khumairah, dan itulah namamu.”

Selasa, 01 November 2011

Saudariku, Jangan Koyak Anggun Hijabmu!!

Salut, kagum, senang, dan rasa bahagia lainnya ketika mendapat kejutan yang menyejukkan batin. Seorang kawan yang dulu tomboy dan punya karakter suka bicara ceplas-ceplos, kini telah berubah penampilan dan tabiatnya.
Tanpa sengaja bertemu dalam sebuah majelis, saya tidak dapat mengenalinya jika tidak disapa lebih dulu. Wajahnya kini semakin manis, pakaiannya anggun menenteramkan kalbu, gaya bicaranya sopan, halus dan santun. Saya terkagum dengan perubahan dirinya, Subhanallah, ia kini telah menutup aurat, menjaga dirinya dari korban budak mode, membungkus tubuhnya sebagai bentuk ketakwaan pada Allah dan Rasul-Nya.
Di satu sisi lagi, saya dikejutkan oleh pemandangan yang membuat mata saya panas, memerah dan pahit. Kerongkongan saya tersekat. Seorang sahabat yang dulunya anggun dalam balutan hijab, kini telah melanjangi kehormatannya. Kepala dan tubuhnya menjadi tak bernilai karena hijabnya telah dia lepas, terkoyaklah iman dan izzahnya. Astaghfirullah.
Dulu ketika lajang ia merupakan gadis yang cantik, cerdas dan menyenangkan. Namun pernikahan telah merobek iman yang dulu tersemat anggun dalam kuncup hatinya. Ia kini tampil penuh percaya diri dengan busana seksi layaknya wanita jahiliyah, lepas sudah hijabnya, robek dan jatuh kehormatannya sebagai wanita salehah.
Pemandangan nyata yang kontras, yang memiliki renungan dan hikmah. Maha benar apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an:
“Barangsiapa yang Allah kehendahu kki akan memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya (memeluk agama) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikannya dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki gunung…..” (Al-An’am 125).
“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Al-Qashash 56).
Betapa mahalnya sebuah hidayah. Mempertahankan keistiqamahan hidayah membutuhkan perjuangan yang panjang dan menguras airmata. Begitu pula bagi muslimah yang telah berkomitmen menjadikan islam sebagai jalan hidupnya. Hendaknya memasukinya secara kaffah dan sungguh-sungguh. Sesungguhnya gemerlap duniawi yang membuat wanita menanggalkan hijab merupakan godaan musuh-musuh islam yang menginginkan muslimah itu hancur, selanjutnya jika muslimah sudah hancur dan terenggut imannya, sangat berpotensi menular pada orang sekitarnya.
Wanita yang menanggalkan hijab setelah Allah meneteskan sepercik hidayah, tempatnya adalah neraka, dan tidak layak berharap akan surga, karena dalam hadits shahih muslim Rasulullah telah mengabarkan, wanita yang berpakaian tapi telanjang tidak akan mencium bau surga. Sedangkan di dunia, akan menjadi bahan tertawaan musuh-musuh islam yang gigih melunturkan iman muslimah melalui topeng fashion. Renungan bagi muslimah, relakah anda dijadikan korban mode oleh orang-orang yang menginginkan agama anda hancur?
Sudah selayaknya kita sebagai wanita muslimah melepaskan belenggu perbudakan modern yang tersembunyi dibalik fashion. Sudah sepantasnya pula kita memerdekakan diri dari penjajahan mode yang memancing wanita berlomba-lomba tampil cantik secara lahiriyah, tetapi lupa untuk mempercantik batiniyah